| Oleh: Akhmad Hasbul Wafi - Sekretaris Bidang Kajian Dakwah Islam (KDI) PD IPM Kab. Malang |
Malang, AlifMH.info — Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan telah mengubah cara generasi muda Indonesia belajar, berinteraksi, dan memahami dunia. Bagi pelajar Muhammadiyah, perubahan ini membawa peluang besar sekaligus tantangan yang serius. Gawai kini bukan lagi sekadar alat komunikasi, tetapi telah menjadi ruang yang membentuk cara berpikir, cara berbicara, bahkan cara memahami agama. Karena itu, pelajar Muhammadiyah perlu hadir lebih aktif untuk memimpin ruang digital dengan ilmu, adab, dan semangat dakwah yang mencerahkan.
Survei APJII 2024 mencatat jumlah pengguna internet Indonesia telah mencapai 221,56 juta jiwa dengan tingkat penetrasi 79,5 persen. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat, khususnya generasi muda, hidup dalam ekosistem digital yang sangat padat. Namun derasnya arus digital tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan etika dan keamanan. Kajian UNICEF Indonesia mengungkap hanya 37,5 persen anak yang pernah menerima informasi tentang cara aman beraktivitas di internet. Selain itu, 42 persen anak pernah merasa takut atau tidak nyaman akibat pengalaman daring, dan 50,3 persen pernah melihat gambar seksual di media sosial.
Fakta ini memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan pembinaan nilai. Dalam kondisi seperti ini, pelajar tidak cukup hanya diajari memakai teknologi, tetapi juga perlu dibimbing agar mampu menempatkan teknologi di bawah kendali moral. Di sinilah islamisasi digital menjadi penting. Islamisasi digital tidak cukup dipahami sebagai menghadirkan simbol-simbol Islam di media sosial, melainkan sebagai ikhtiar menghadirkan adab, kejujuran, tanggung jawab ilmu, dan budaya tabayyun dalam setiap aktivitas digital.
Bagi pelajar Muhammadiyah, tanggung jawab ini mempunyai makna yang lebih luas. Muhammadiyah merupakan gerakan dakwah, tajdid, dan ilmu yang sejak awal berdiri membawa semangat pencerahan. Karena itu, pelajar Muhammadiyah tidak cukup hanya menjadi pengguna media sosial yang baik secara personal, tetapi juga harus mampu menghadirkan manfaat sosial. Mereka memiliki tanggung jawab moral untuk menggunakan gawai secara amanah dan tanggung jawab persyarikatan untuk mengubah ruang digital menjadi ruang dakwah, pendidikan, dan penjernihan informasi.
Tantangan ini terasa semakin besar di era AI. Kemudahan yang ditawarkan teknologi memang dapat membantu proses belajar. Namun jika digunakan tanpa kendali, AI dapat melahirkan ketergantungan instan dan melemahkan proses berpikir yang mendalam. UNESCO telah menegaskan bahwa penggunaan generative AI dalam pendidikan harus berpusat pada manusia, aman, inklusif, dan etis. Prinsip ini sejalan dengan pandangan Muhammadiyah yang dalam forum resminya mendorong pengembangan AI yang berkah, beretika, dan berkemajuan. Ini menunjukkan bahwa teknologi perlu diarahkan untuk kemaslahatan, bukan dibiarkan berjalan tanpa kompas nilai.
Contoh penting dapat dilihat pada perbedaan penetapan awal Ramadan 1447 H. Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada 18 Februari 2026, sementara pemerintah menetapkannya pada 19 Februari 2026 melalui sidang isbat. Perbedaan ini sebetulnya dapat dijelaskan secara ilmiah sebagai perbedaan metodologis. Namun di media sosial, isu seperti ini kerap berubah menjadi bahan saling sindir dan perdebatan yang tidak produktif. Dalam situasi demikian, pelajar Muhammadiyah semestinya hadir untuk memberikan penjelasan yang jernih, santun, dan mendidik.
Pelajar Muhammadiyah tidak boleh membiarkan ruang digital dipenuhi akun-akun provokatif, potongan informasi tanpa konteks, atau narasi keagamaan yang justru mempermalukan tradisi ilmu Islam. Sebaliknya, mereka perlu meramaikan algoritma dengan konten yang argumentatif, damai, dan mencerahkan. Mereka dapat menjelaskan pentingnya tabayyun, mengedukasi soal etika bermedia, mengenalkan penggunaan AI yang bertanggung jawab, serta menyampaikan bahwa perbedaan dalam khazanah Islam harus disikapi dengan akhlak.
Lebih jauh lagi, dakwah digital pelajar Muhammadiyah harus bergerak dari sekadar ikut tren menuju memimpin percakapan. Mereka perlu membangun ekosistem dakwah digital yang terorganisasi melalui konten pendek yang kuat secara pesan, literasi cek fakta keagamaan, serta bahasa komunikasi yang dekat dengan generasi muda. Jika hal ini dilakukan secara konsisten, ruang digital tidak hanya menjadi tempat hiburan atau pertengkaran, tetapi dapat berubah menjadi ruang gerakan yang menumbuhkan kecerdasan dan akhlak.
Masa depan pelajar Muhammadiyah akan sangat dipengaruhi oleh cara mereka memperlakukan gawai. Jika teknologi hanya dipakai untuk hiburan dan perdebatan kosong, maka pelajar akan larut sebagai pengguna biasa. Namun jika teknologi dipakai untuk mendidik, berdakwah, dan menjernihkan ruang publik, maka pelajar Muhammadiyah akan tampil sebagai generasi yang memimpin peradaban digital dengan semangat Islam berkemajuan.
[ ا MH ]