Alif MH - Info: Social
Showing posts with label Social. Show all posts
Showing posts with label Social. Show all posts

Saturday, January 31, 2026

Digitalisasi UMKM, Kunci Indonesia Masuk 5 Besar Ekonomi Dunia

 

William Heinrich (Ketua Umum BPD HIPMI Papua Barat Periode 2021–2024)

Jakarta, AlifMH.info — Secara nasional, UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Berdasarkan rilis resmi Kementerian UMKM, jumlah UMKM di Indonesia mencapai sekitar 65,5 juta unit usaha yang menyerap kurang lebih 119 juta tenaga kerja, atau sekitar 97 persen dari total angkatan kerja nasional. Kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga sangat signifikan, yakni sekitar 61,9 persen dari total PDB nasional. Data ini menunjukkan bahwa keberlanjutan ekonomi Indonesia sangat bergantung pada kekuatan dan daya saing Pengusaha UMKM.

Sebagai fondasi pembangunan ekonomi, stabilitas dan kesinambungan regulasi merupakan prasyarat utama agar program pemberdayaan UMKM dapat berjalan efektif dan berkelanjutan. Saya sebagai Ketua Umum BPD HIPMI Papua Barat Periode 2021-2024, sementara menjabat sebagai Direktur BSNPG 2024 - 2029, memahami bahwa dari perspektif pengusaha, kebijakan yang konsisten dan berkeadilan memberikan kepastian usaha sehingga pengusaha UMKM mampu menyusun perencanaan bisnis dalam jangka menengah dan panjang. 

Pengalaman negara-negara maju menunjukkan bahwa tata kelola ekonomi yang terencana, disiplin, adil dan konsisten menjadi kunci keberhasilan pembangunan industri dalam penguatan peran inovasi pengusaha UMKM. Negara-negara Asia seperti China, Vietnam, Korea Selatan, dan Jepang mampu menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonominya melalui birokrasi ekonomi yang kuat dan berorientasi jangka panjang. OECD (2023) mencatat bahwa Korea Selatan dan Jepang secara konsisten menempatkan UMKM sebagai bagian integral dari kebijakan industrialisasi, terutama melalui perlindungan rantai pasok domestik dan dukungan teknologi. 

Sementara itu, Vietnam dan China berhasil memanfaatkan UMKM sebagai basis pemasok industri besar dan ekspor, sehingga stabilitas produksi dan penyerapan tenaga kerja dapat terjaga dalam jangka panjang. Di Indonesia, berbagai upaya terus dilakukan agar UMKM tidak hanya bertumpu pada pasar domestik, tetapi juga mampu terintegrasi ke dalam Global Value Chain (GVC). Bank Dunia menegaskan bahwa negara berkembang yang berhasil memasukkan UMKM ke dalam rantai pasok global mengalami peningkatan produktivitas hingga 20-30 persen.

Penguatan kemitraan antara UMKM dan sektor industri semakin nyata melalui kebijakan peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN), namun masih perlu didorong untuk memperkuat peran industri digital. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa penerapan kebijakan P3DN dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) berdampak pada meningkatnya serapan produk UMKM di sektor perhotelan, jasa, dan manufaktur nasional. Berbagai hotel dan jaringan industri kini secara aktif memanfaatkan produk UMKM, mulai dari perlengkapan kamar, furnitur, hingga produk pangan lokal. Pola kemitraan ini menciptakan hubungan yang saling menguntungkan, di mana UMKM memperoleh kepastian pasar, sementara industri mendapatkan pasokan produk lokal yang kompetitif dan berkelanjutan.

Dalam dunia industri, siapa yang menguasai kecerdasan buatan, internet of things, dan big data akan menguasai rantai pasok global. Maka, digitalisasi bukan pelengkap pembangunan, melainkan pengungkit utama industrialisasi modern. Namun, masih banyak yang keliru memahami posisi tekhnologi digital. Dibanyak ruang diskusi kebijakan, digitalisasi masih dianggap pelengkap infrastruktur fisik, atau sekedar lapisan sistem yang sudah ada. Padahal, transformasi digital sejati mengubah cara industri bekerja dari hulu ke hilir, dari lini produksi UMKM, manajemen logistik, desain produk, hingga strategi pemasaran. 

Para pemangku kebijakan harus mendorong pengusaha UMKM dapat berinovasi dalam penguatan sektor industri, menjadikan Indonesia masuk lima besar ekonomi manufaktur global pada 2030, dengan digitalisasi sebagai pendorong utama disektor prioritas UMKM seperti makanan, minuman, tekstil, elektronik, dan bahan kimia. Implementasi langkah ini masih menghadapi tantangan struktural. Terlalu fokus pada industri besar di kawasan ekonomi khusus, belum menyentuh UMKM serta sektor informal secara menyeluruh. Padahal, lebih dari 97% pelaku industri di Indonesia adalah pengusaha UMKM. Tanpa menjangkau mereka, penguatan transformasi industri nasional akan timpang.

Digitalisasi harus menyentuh lini terbawah rantai produksi. Kita perlu bertanya, apakah pengrajin di Garut, Petani di Konawe, pengusaha IKM Logam di Ceper atau para pengusaha UMKM diberbagai daerah sudah bisa mengakses sistem digital untuk produksi dan distribusi? Apakah mereka memiliki perangkat, jaringan, dan keterampilan digital dasar? Data dari Kemenkop UKM (2023) menunjukkan hanya sekitar 24 juta dari 64 juta UMKM yang telah terhubung secara digital. Artinya masih ada sekitar 40 juta pengusaha UMKM yang melum masuk dalam ekosistem industri digital. 

Indonesia dipandang perlu belajar membangun kerangka kerja sistem industri digital dengan menyertakan usaha kecil menengah dalam transformasi digital melalui program go-digital dan smart factory hub seperti di Jerman. Disana, pemerintah membantu perusahaan kecil untuk mengadopsi tekhnologi produksi pintar dengan subsidi, pelatihan, dan kemitraan dengan universitas. Hasilnya di Jerman, produktifitas meningkat tanpa harus menunggu investasi besar. Tiongkok juga bergerak cepat. Dalam program "Made in China 2025", pemerintah disana tidak hanya menargetkan perusahaan besar, tetap juga membangun ribuan inkubator dan zona tekhnologi khusus untuk menyasar UMKM dan sektor agroindustri. 

Dengan subsidi cloud, pelatihan AI, dan platform e-commerce lokal, mereka berhasil menghubungkan industri kecil dengan pasar global secara digital. Indonesia memiliki potensi serupa, namun fondasi utama digitalisasi adalah pemerataan infrastruktur. Tanpa internet cepat dan murah diseluruh pelosok semua mimpi tentang AI dan IoT hanya akan tinggal slogan di Jakarta. Menurut data BPS 2023, akses internet rumah tangga di wilayah perkotaan mencapai 82%, sedangkan di pederdesaan masih dibawah 47%. Kesenjangan digital ini menciptakan ketimpangan inovasi, dan pada akhirnya memperdalam ketimpangan ekonomi. 

Di era digital, data adalah aset, maka penting adanya perlindungan data industri. Industri yang menggunakan AI untuk memprediksi permintaan, atau big data untuk mengatur pasokan bahan baku, sangat bergantung pada keamanan dan kepastian data. Namun, di Indonesia, regulasi perlindungan data masih lemah. UU perlindungan data pribadi (UU PDP) yang disahkan pada 2022 lebih berfokus pada data konsumen, belum secara eksplisit mengatur perlindungan dan kepemilikan data industri. 

Kedaulatan digital adalah bagian dari kedaulatan industri. Negara harus mampu menjamin bahwa data industri dalam negeri tersimpan di pusat data nasional, tidak dapat diakses sembarangan. Indonesia bisa meniru pendekatan Uni Eropa yang lewat GDPR dan Digital Markets ACT menetapkan batasan tegas bagi dominasi platform besar terhadap data industri kecil dan menengah. Langkah ini merupakan penguatan posisi sektor industri dalam membangun inovasi dan produktifitas para pengusaha UMKM hingga dapat berkembang maju. Dalam hal ini, Kementrian Industri, Kementrian Kominfo, Bappenas, Kemenkop dan Kementerian UMKM harus memiliki agenda bersama dalam penguatan proses industrialisasi digital untuk menjamin keamanan dan kemudahan sistem kerja para pengusaha UMKM Indonesia, baik pada pelayanan, pemasaran, distribusi, pembiayaan, dan keamanan big data. Semua ini bertujuan meningkatkan daya saing, inovasi, efisiensi, dan pemerataan manfaat industri secara cerdas dan berkeadilan pagi para pengusaha UMKM Indonesia.

ا MH ]

Friday, January 30, 2026

Bonus Demografi Indonesia: Peluang atau Ancaman bagi Masa Depan Gen Z?

 

Nursaddam (Pimred Alif MH Media)

Jakarta, AlifMH.info — Indonesia sedang duduk di atas peluang besar sekaligus risiko yang sama besarnya. Dalam beberapa dekade ke depan, jumlah anak muda Indonesia mencapai puncaknya. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa sekitar 70,7 persen penduduk Indonesia berada pada usia produktif (15-64 tahun). Di antara mereka, Generasi Z menjadi kelompok terbesar. Angka ini sering disebut sebagai “bonus demografi”, seolah-olah sejarah telah menghadiahkan Indonesia tiket emas menuju negara maju. Namun, sejarah juga mengajarkan satu hal yang sering dilupakan: bonus demografi tidak pernah otomatis menjadi bonus.

Di balik angka yang terlihat optimistis, ada realitas yang jauh lebih keras. Tingkat pengangguran terbuka nasional Indonesia berada di kisaran 5-6 persen, tetapi untuk kelompok usia muda angkanya hampir dua kali lipat. BPS mencatat bahwa pengangguran usia 15-24 tahun berada di atas 16 persen. Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 20 persen pemuda Indonesia masuk kategori NEET-tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak mengikuti pelatihan. Artinya, dari setiap lima anak muda, satu di antaranya hidup tanpa arah yang jelas dalam sistem ekonomi dan pendidikan.

Kementerian Ketenagakerjaan mencatat bahwa setiap tahun Indonesia harus menyediakan jutaan lapangan kerja baru hanya untuk menampung tambahan angkatan kerja. Namun, sebagian besar lapangan kerja yang tercipta berada di sektor informal dengan produktivitas rendah. OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development atau Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi) bahkan mencatat bahwa produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tertinggal jauh dibanding negara-negara Asia Timur. Jika produktivitas tenaga kerja Korea Selatan dijadikan patokan, Indonesia masih berada di bawah separuhnya. Singapura bahkan melampaui Indonesia hingga beberapa kali lipat. Perbandingan ini menunjukkan bahwa persoalan utama Indonesia bukan jumlah tenaga kerja, melainkan kualitasnya.

Di saat yang sama, dunia berubah lebih cepat daripada kesiapan manusia mengikutinya. World Economic Forum memprediksi bahwa sekitar 44 persen keterampilan kerja akan berubah dalam lima tahun ke depan. Otomatisasi dan kecerdasan buatan akan menggantikan jutaan pekerjaan rutin. Alvin Toffler pernah menyebut fenomena ini sebagai future shock, guncangan yang dialami manusia ketika perubahan sosial dan teknologi bergerak terlalu cepat. Prediksi Toffler kini bukan lagi teori, melainkan kenyataan yang dihadapi Gen Z setiap hari. 

Dalam kerangka yang lebih kritis, Karl Marx pernah mengingatkan bahwa struktur ekonomi menentukan nasib kelas sosial. Jika sistem ekonomi hanya menciptakan sedikit ruang bagi tenaga kerja berkualitas, maka generasi muda akan terjebak dalam kompetisi yang tidak adil. Michel Foucault menambahkan bahwa kekuasaan modern bekerja bukan hanya melalui hukum, tetapi melalui sistem pengetahuan-kurikulum, standar kompetensi, dan sertifikasi yang menentukan siapa yang dianggap layak dan siapa yang tersingkir. Dalam konteks bonus demografi, Gen Z tidak hanya menghadapi tantangan teknologi, tetapi juga struktur sosial yang membatasi mobilitas mereka.

Namun, tantangan terbesar Gen Z bukan hanya soal pekerjaan, tetapi soal cara berpikir. Yuval Noah Harari dalam 21 Lessons for the 21st Century menegaskan bahwa di abad ke-21, kemampuan paling penting bukan hafalan, melainkan kemampuan belajar ulang. Peter Drucker menyebut masyarakat masa depan sebagai knowledge society, di mana nilai ekonomi ditentukan oleh pengetahuan, bukan tenaga fisik. Manuel Castells bahkan menggambarkan dunia modern sebagai network society, di mana kekuasaan dan peluang ditentukan oleh akses terhadap informasi dan jaringan. Jika Gen Z hanya menjadi pengguna teknologi, bukan pengendali pengetahuan, maka mereka akan kalah bahkan sebelum bertanding.

Ironisnya, Gen Z hidup di era informasi yang melimpah, tetapi sering kehilangan kedalaman berpikir. Noam Chomsky pernah mengkritik bagaimana media modern membentuk manusia menjadi konsumen yang patuh, bukan warga yang kritis. Dalam realitas digital hari ini, algoritma lebih menentukan apa yang kita lihat daripada kesadaran kita sendiri. Banyak anak muda merasa sibuk, tetapi tidak berkembang; merasa produktif, tetapi tidak bertumbuh. Jika pola ini terus berlangsung, maka bonus demografi hanya akan melahirkan generasi yang ramai di dunia maya, tetapi rapuh di dunia nyata.

Namun, menyalahkan Gen Z sepenuhnya adalah kesalahan. Pierre Bourdieu mengingatkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh modal ekonomi, sosial, dan budaya. Tidak semua anak muda memulai dari titik yang sama. Ketimpangan akses pendidikan, teknologi, dan jaringan sosial membuat bonus demografi tidak pernah netral. Jika negara gagal memperluas akses, maka bonus demografi hanya akan memperbesar jurang sosial antara mereka yang siap dan mereka yang tertinggal.

Meski demikian, sejarah selalu menunjukkan satu pola yang sama: perubahan besar hampir selalu dimulai dari generasi muda. Dari reformasi politik hingga revolusi digital, anak muda sering menjadi aktor utama. Di titik inilah bonus demografi menemukan maknanya yang paling dalam. Ia bukan sekadar soal jumlah, tetapi soal kesadaran. Gen Z yang mampu menggabungkan literasi teknologi, daya kritis, kreativitas, dan keberanian berpikir bukan hanya akan bertahan, tetapi akan mendefinisikan ulang arah bangsa.

Pada akhirnya, bonus demografi bukanlah hadiah otomatis, melainkan pertaruhan sejarah. Jika Gen Z mampu keluar dari budaya instan dan membangun kompetensi yang relevan dengan zaman, maka bonus demografi akan menjadi fondasi kebangkitan Indonesia. Tetapi jika mereka terjebak dalam kenyamanan digital dan ilusi produktivitas, maka bonus demografi hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah kegagalan.

Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh jumlah anak muda yang lahir, tetapi oleh kualitas kesadaran anak muda yang hidup hari ini. Di antara layar ponsel dan realitas sosial, Gen Z sedang menulis nasib bangsanya sendiri. Dan mungkin, untuk pertama kalinya dalam sejarah, masa depan Indonesia benar-benar berada di tangan mereka.

ا MH ]

Wednesday, January 28, 2026

Mengapa Warga Indonesia Semakin Pilih Berobat ke Malaysia

 

William Heinrich (Direktur Kajian Strategis dan Teritorial Pemilu BSNPG)

Jakarta, AlifMH.info — Kesehatan merupakan salah satu aspek paling mendasar dalam kehidupan manusia. Setiap individu berupaya menjaga kesehatannya melalui berbagai cara, mulai dari mengonsumsi makanan dan minuman yang sehat, menjaga pola hidup seimbang, berolahraga secara rutin, hingga menghindari kebiasaan begadang. Namun, ketika kondisi tubuh tidak lagi sehat, upaya preventif tersebut tidak lagi cukup. Pengobatan menjadi sebuah keharusan, bahkan dapat dipandang sebagai kewajiban demi mempertahankan kualitas hidup.

Dalam konteks inilah, pelayanan kesehatan memegang peran strategis. Negara dituntut hadir bukan hanya sebagai penyedia fasilitas, tetapi juga sebagai penjamin rasa aman dan kepercayaan warganya ketika menghadapi kondisi sakit. Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, muncul fenomena sosial yang cukup mencolok: semakin banyak warga Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri, khususnya ke Malaysia. Fenomena ini tidak dapat dipahami sekadar sebagai tren sesaat, melainkan sebagai gejala struktural yang patut dicermati secara serius.

Di Indonesia, pelayanan kesehatan berada di bawah kewenangan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Secara kuantitas, pembangunan fasilitas kesehatan terus mengalami peningkatan. Namun dalam praktiknya, sebagian masyarakat masih merasakan ketidakpastian layanan, mulai dari birokrasi rujukan yang panjang hingga pengalaman pelayanan yang kurang manusiawi. Kondisi inilah yang mendorong warga mencari alternatif pengobatan di luar negeri.

Malaysia kemudian muncul sebagai destinasi utama. Secara objektif, sistem kesehatan Malaysia dibangun dengan infrastruktur yang kuat dan tata kelola yang relatif tertata. Data sebagaimana dilansir dari wikipedia menunjukkan bahwa hingga 2023 Malaysia memiliki sekitar 373 rumah sakit, terdiri atas 149 rumah sakit pemerintah dan lebih dari 210 rumah sakit swasta, dengan total kapasitas sekitar 69.800 tempat tidur. Jaringan fasilitas ini memungkinkan akses layanan medis yang relatif merata dan berjenjang. 

Selain ketersediaan fasilitas, tingkat pemanfaatan layanan kesehatan di Malaysia juga sangat tinggi. Berdasarkan laporan dari Kementerian Kesehatan Malaysia bahwa sepanjang 2023 sistem kesehatan Malaysia mencatat sekitar 4 juta pasien rawat inap dan lebih dari 100 juta kunjungan rawat jalan. Angka ini menunjukkan bahwa fasilitas kesehatan tidak hanya tersedia, tetapi benar-benar digunakan secara luas oleh masyarakat.

Keunggulan lain terletak pada dukungan pembiayaan dan investasi negara. Berdasarkan penelurusan dari CodeBlue.com bahwa pengeluaran kesehatan nasional Malaysia pada 2023 tercatat mencapai lebih dari RM84 miliar, dengan pembagian relatif seimbang antara sektor publik dan swasta. Pola ini menciptakan ekosistem kesehatan yang kompetitif, tetapi tetap terkontrol oleh kebijakan negara.

Sektor kesehatan swasta Malaysia dikenal luas memiliki standar internasional. Rumah sakit swasta didukung oleh tenaga medis profesional yang umumnya mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris dan Melayu, sehingga memudahkan pasien internasional, termasuk dari Indonesia. Menariknya, meskipun berstandar internasional, biaya perawatan di Malaysia relatif terjangkau. Platform wisata medis mencatat bahwa biaya pengobatan di Malaysia sering kali lebih rasional jika dibandingkan dengan kualitas layanan yang diterima pasien (medtrip.id)

Faktor-faktor inilah yang menjadikan Malaysia unggul sebagai destinasi wisata medis. Pada paruh pertama tahun 2024 saja, Malaysia mencatat lebih dari 580 ribu kunjungan wisatawan medis, dan sekitar 65–80 persen di antaranya berasal dari Indonesia. Angka ini tidak hanya mencerminkan daya tarik Malaysia bagi pasien asing, tetapi juga menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap sistem kesehatan negara tersebut (https://www.ihhmalaysia-international.com).

Mayoritas pasien Indonesia yang berobat ke Malaysia merupakan penderita penyakit serius, terutama kanker. Penyakit ini membutuhkan fasilitas diagnostik canggih, teknologi terapi mutakhir, serta tenaga medis yang berpengalaman. Malaysia dinilai mampu menyediakan ketiga unsur tersebut secara terintegrasi. Selain kanker, layanan medical check-up, ortopedi, serta penyakit tulang seperti osteoporosis dan skoliosis juga menjadi alasan utama warga Indonesia berobat ke sana.

Beberapa rumah sakit di Malaysia bahkan telah menjadi rujukan utama warga Indonesia sebagaimana dilansir dari mypageaxa.co.id yaitu Mount Miriam Cancer Hospital, misalnya, dikenal sebagai pusat diagnosis dan perawatan kanker dengan fokus layanan yang spesifik dan terintegrasi. Rumah sakit ini membangun reputasinya melalui pendekatan medis yang sistematis dan komunikasi yang intensif dengan pasien.

Selain itu, terdapat Regency Specialist Hospital yang berlokasi di Johor. Rumah sakit ini didukung oleh sekitar 80 dokter spesialis dari berbagai disiplin ilmu kedokteran dan bedah, serta melayani lebih dari 170 ribu pasien setiap tahunnya. Skala pelayanan ini menunjukkan tingkat kepercayaan publik yang tinggi, termasuk dari pasien internasional. 

Pantai Hospital juga menjadi salah satu tujuan utama pengobatan. Rumah sakit ini merupakan bagian dari Pantai Group yang menaungi sejumlah fasilitas kesehatan di Malaysia. Dengan beberapa cabang yang tersebar di berbagai wilayah, Pantai Hospital menawarkan layanan medis berstandar internasional dengan sistem pelayanan yang konsisten.

Island Hospital Penang tercatat sebagai salah satu rumah sakit dengan jumlah pasien luar negeri terbanyak pada tahun 2021. Hal ini memperkuat posisi Penang sebagai pusat wisata medis di kawasan regional. Sementara itu, Sunway Medical Center, yang berdiri sejak 1999 dan memiliki beberapa cabang, dikenal sebagai rumah sakit modern dengan layanan terpadu dan teknologi mutakhir.

Untuk kasus penyakit jantung, Institut Jantung Negara (National Heart Institute) menjadi rujukan utama. Rumah sakit ini didukung oleh puluhan dokter spesialis jantung berstandar internasional dan dikenal luas sebagai pusat unggulan pengobatan kardiovaskular di Malaysia. 

Lebih jauh, keberhasilan sistem kesehatan Malaysia juga ditopang oleh modernisasi layanan. Pemerintah Malaysia tengah mengembangkan telemedicine, digital health record, dan smart hospital system untuk meningkatkan efisiensi dan akses pelayanan kesehatan, termasuk di wilayah nonperkotaan (opengovasia.com).

Seluruh data tersebut menunjukkan bahwa fasilitas kesehatan modern berstandar internasional bukan sekadar simbol kemajuan, melainkan fondasi nyata yang menopang derajat kesehatan masyarakat Malaysia. Tingginya tingkat pemanfaatan layanan, stabilitas pembiayaan, modernisasi sistem, serta kepercayaan publik dan pasien internasional menjadi indikator bahwa sistem kesehatan Malaysia bekerja secara fungsional dan berorientasi pada kepastian pelayanan. Dalam konteks ini, keberhasilan Malaysia bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari keseriusan negara dalam membangun tata kelola kesehatan yang efisien, transparan, dan manusiawi.

Bagi Indonesia, fenomena ini seharusnya menjadi alarm kebijakan. Pelayanan kesehatan nasional perlu segera berbenah, bukan hanya pada aspek infrastruktur dan teknologi medis, tetapi terutama pada tata kelola layanan, kepastian sistem rujukan, kualitas komunikasi dokter-pasien, serta etika pelayanan publik. Negara tidak boleh membiarkan kepercayaan warga terkikis hingga mereka harus mencari rasa aman ke negeri lain. 

Reformasi kesehatan harus dipandang sebagai agenda strategis negara, bukan sekadar proyek sektoral. Jika pelayanan kesehatan Indonesia mampu menghadirkan kepastian, keadilan akses, dan penghormatan terhadap martabat pasien, maka warga tidak perlu lagi menjadikan negara tetangga sebagai rujukan utama. Pada titik itulah, negara benar-benar hadir bukan hanya sebagai regulator, tetapi sebagai pelindung hak paling dasar warganya: hak untuk sehat dan dilayani secara bermartabat.

ا MH ]

Friday, December 12, 2025

The Jakarta Drilling Society (JDS) Perkuat Talenta Energi Nasional Melalui Program Pendidikan dan Beasiswa Pengeboran


Jakarta, AlifMH.info  The Jakarta Drilling Society (JDS), sebuah organisasi nirlaba yang berdedikasi untuk pengembangan industri pengeboran di Indonesia, kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan sumber daya manusia unggul di sektor energi nasional. Sejak didirikan pada 2019, JDS konsisten menyelenggarakan program pendidikan dan beasiswa pengeboran yang terbuka bagi berbagai latar belakang peserta guna menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan industri.

Sebagai bentuk nyata kontribusinya, JDS melalui beasiswa scholarship telah melahirkan ratusan talenta terampil dalam bidang pengeboran minyak, gas, dan panas bumi. Pada Batch 6, misalnya, lebih dari 1.000 pendaftar mengikuti seleksi dan puluhan peserta terpilih mengikuti rangkaian kegiatan pendidikan secara tatap muka maupun daring. Inovasi kelas daring ini dirancang untuk membuka kesempatan bagi peserta dari luar Pulau Jawa sehingga pemerataan pendidikan dapat tercapai.

Ketua Umum sekaligus pendiri JDS, Yudi Hartono, menegaskan bahwa peran JDS tidak hanya sebatas transfer ilmu teknis, tetapi juga membentuk profesional yang mampu berkontribusi secara luas di industri energi nasional. “Kami berkomitmen untuk menciptakan generasi profesional yang tidak hanya kompeten di bidang pengeboran, tetapi juga siap mendukung ketahanan energi Indonesia,” ujar Yudi dalam kegiatan pembukaan Scholarship Batch 6 di Jakarta.

Dalam perjalanannya, program JDS telah menarik antusiasme luar biasa dari masyarakat luas. Batch pertama pada 2019 diikuti oleh 60 peserta dari berbagai latar belakang, dan pada Batch kedua jumlah pendaftar melonjak hingga 800 orang. Batch berikutnya tetap menunjukkan tren positif dengan ribuan pendaftar setiap tahunnya, menandakan minat tinggi terhadap pendidikan pengeboran di Indonesia.

Sebagai organisasi yang fokus pada peningkatan kapasitas SDM industri, JDS juga melakukan kolaborasi strategis dengan asosiasi dan institusi akademik terkemuka untuk memperluas jangkauan programnya. JDS saat ini tengah mempersiapkan Batch 7 Scholarship, serta memperkuat kerja sama lintas pemangku kepentingan guna memperluas akses dan dampak program pendidikan ini.

Tidak hanya menyediakan beasiswa, JDS juga membuka berbagai kegiatan pendukung seperti mini courses, sharing sessions, dan kunjungan industri untuk memperkuat pemahaman praktis peserta terhadap operasi pengeboran di lapangan. Melalui pendekatan ini, JDS berharap dapat memperkuat jejaring antara pelajar, profesional, dan pelaku industri energi di Tanah Air.

Dengan visi menjadi pelopor pendidikan dan inovasi pengeboran di Indonesia, JDS terus berupaya memperluas kontribusinya dalam pengembangan SDM bidang energi yang kompeten, adaptif, dan siap menghadapi tantangan global. Langkah nyata tersebut mencerminkan peran organisasi dalam mendukung pertumbuhan industri energi yang berkelanjutan dan ketahanan energi nasional.

ا MH ]

Tuesday, November 11, 2025

Dari Jalan ke Parlemen, Pengemudi Online Tuntut Regulasi Adil

 


Jakarta, AlifMH.info  Sejumlah pengemudi ojek online yang tergabung dalam Forum Diskusi Transportasi Online Indonesia (FDTOI) dan Serikat Pengemudi Ojek Online Indonesia (SePOI) akan kembali menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Patung Arjuna Wiwaha (Patung Kuda), Jakarta Pusat, pada Kamis, 20 November 2025. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk desakan terhadap pemerintah untuk segera mengevaluasi tarif dan regulasi transportasi online yang dinilai belum berpihak pada pengemudi.

Ketua Umum SePOI, Mahmud, menyampaikan bahwa aksi tersebut akan diikuti ribuan pengemudi online dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jawa Timur, Medan, dan Batam. “Ya, betul. Kami akan kembali menggelar aksi unjuk rasa di hari Kamis, 20 November. Titik kumpul dimulai dari Tugu Proklamasi Jakarta Pusat, namun masih dalam proses persetujuan dengan pihak terkait,” ujarnya saat ditemui di Jakarta, Selasa (11/11/2025).

Mahmud menegaskan, dalam aksi tersebut pihaknya membawa empat poin utama tuntutan. Pertama, evaluasi dan penyesuaian tarif untuk pengemudi online roda dua; kedua, penyesuaian tarif antar paket dan makanan; ketiga, revisi tarif Biaya Operasional Kendaraan (BOK) bagi pengemudi taksi online; dan keempat, penyusunan Undang-Undang Transportasi Online yang berpihak pada kesejahteraan pengemudi. “Kami berharap pemerintah, khususnya Kemenhub, segera menindaklanjuti tuntutan ini,” tegas Mahmud.

Sementara itu, Sekjen SePOI Einstein Dialektika menilai bahwa Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 12 Tahun 2019 sebenarnya sudah mengakomodir kepentingan pengemudi, namun implementasinya tidak konsisten. “Kemenhub membuat aturan tapi tidak dijalankan dengan baik. Saat tarif berhenti di tahun 2022, rata-rata jam kerja pengemudi hanya 8 jam per hari, sekarang meningkat jadi 14 jam. Akibatnya banyak pengemudi kelelahan, stres, bahkan berisiko kecelakaan di jalan,” jelasnya.

Einstein menambahkan, kondisi kerja yang semakin berat tanpa disertai peningkatan tarif telah menimbulkan keresahan di kalangan pengemudi. Selain kelelahan fisik, banyak pengemudi juga mengalami tekanan sosial karena waktu untuk keluarga semakin berkurang. “Kami mengingatkan Kemenhub agar menjalankan aturan yang mereka buat sendiri secara konsisten. Semua poin tuntutan kami masih dalam ranah kewenangan Kemenhub,” ujarnya menegaskan.

Menutup pernyataannya, Mahmud mengimbau seluruh peserta aksi agar tetap menjaga ketertiban selama berlangsungnya unjuk rasa. “Kami mengingatkan rekan-rekan pengemudi agar tidak terprovokasi hoaks atau narasi di luar tuntutan utama kami. Aksi ini harus tetap damai dan berangkat dari kesadaran masing-masing, bukan paksaan,” pungkasnya.

ا MH ]

Tuesday, October 14, 2025

DPP Mahasantri Indonesia: Meminta KPI Sanksi Tegas Trans7 dan Cabut Ijin Penyiaran di Indonesia


Ketua Umum DPP Mahasantri Indonesia; Moh. Khairi

Jakarta, AlifMH.info  Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Mahasantri Indonesia (DPP Mahasantri Indonesia) menyampaikan keprihatinan mendalam atas tayangan di salah satu program Trans7 yang dinilai memojokkan budaya santri dan kehidupan pesantren. Tayangan tersebut tidak hanya mencederai marwah lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga menimbulkan kegaduhan dan keresahan di tengah masyarakat santri. Selaku Ketua Umum Moh. Khairi menilai bahwa, media seharusnya menjadi sarana edukatif dan perekat sosial antar anak bangsa

“media sejatinya menjadi ruang pendidikan bukan justru menyebarkan stigma negatif terhadap kalangan santri yang selama ini menjadi benteng moral bangsa. Pesantren telah terbukti sebagai lembaga yang mencetak generasi berilmu, berakhlak, dan cinta tanah air.” Tegas Khairi alumni Darul Ulum Banyuanyar Madura ini.

Atas dasar itu, DPP Mahasantri Indonesia mendesak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk segera melakukan evaluasi dan memberikan sanksi tegas terhadap Trans7, agar peristiwa serupa tidak terulang

“Evaluasi ini penting untuk menjaga marwah lembaga penyiaran agar tetap berpihak pada nilai-nilai kebenaran, kebangsaan, dan penghormatan terhadap keberagaman budaya.” Ungkap Khairi

Pun, Khairi menambahkan bahwa dirinya pernah mengenyam pendidikan di pesantren menyampaikan kekecewaan yang mendalam terhadap tayangan trans7 yang dinilai melanggar kode etik jurnalistik 

“Kami ini santri, bukan bahan lelucon. Jika Trans7 ingin hiburan, datanglah ke pesantren—kami punya banyak kisah inspiratif, bukan fitnah yang lucunya pahit. Media besar seharusnya punya hati besar untuk menghargai perjuangan.” Tambah Ketum Pusat Mahasantri 

Hal senada disampaikan Sekretaris Jenderal DPP Mahasantri Indonesia Muzakki, mereka akan melakukan demonstrasi guna mendesak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk segera melakukan evaluasi dan memberikan sanksi tegas terhadap Trans7. Langkah ini penting agar lembaga penyiaran lebih berhati-hati, profesional, dan menghormati nilai-nilai kebudayaan serta keberagaman masyarakat Indonesia.

“Kami tidak menolak kritik, tetapi kami menolak penghinaan terhadap simbol dan budaya pesantren. Media memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga harmoni, bukan menodainya. Kami meminta KPI bertindak cepat untuk segera mengevaluasi dan menonaktifkan Trans7 dalam penyiaran di Indonesia. Ini sudah menimbulkan kegaduhan yang luar biasa terutama di kalangan santri dan alumni.” Tegas Zaki alumni Ponpes Tebuireng Jawa Timur

DPP Mahasantri Indonesia akan terus mengawal kasus ini dan siap berkoordinasi dengan berbagai pihak agar dunia penyiaran Indonesia semakin bermartabat, beretika, dan berkeadilan. Selasa, 14/10/ 2025.

ا MH ]

Saturday, October 11, 2025

Webinar Gratis: Dari Sensor ke Dashboard, Bagaimana Internet of Things Meningkatkan Keselamatan Kerja

Webinar Gratis: Dari Sensor ke Dashboard, Bagaimana Internet of Things Meningkatkan Keselamatan Kerja

Jakarta, AlifMH.info  Webinar gratis bertajuk “Peran Teknologi Internet of Things (IoT) dalam K3” yang diselenggarakan PT Inovasi Mataraman Indonesia pada Jumat malam (10/10/2025) berjalan sukses dan menarik perhatian para praktisi serta profesional keselamatan dan kesehatan kerja. Acara daring yang berlangsung pukul 19.00–21.00 WIB menghadirkan Mu'amar Fadlil, S.T., M.T., CEH sebagai narasumber utama. Dalam penyampaian materi yang terstruktur, Mu’amar memaparkan bagaimana platform dan perangkat IoT mampu memperkuat sistem manajemen K3 melalui pemantauan kondisi lingkungan kerja, pemantauan kondisi fisiologis pekerja, serta deteksi dini insiden seperti kebocoran gas dan kebakaran.

Selama sesi, pembicara menyoroti contoh aplikasi nyata IoT di berbagai sektor — termasuk manufaktur, pertambangan, konstruksi, dan transportasi — dengan fokus pada penggunaan sensor kualitas udara, sensor gas, pengukuran kebisingan, serta wearable devices untuk memantau denyut jantung dan lokasi pekerja di area berisiko. Mu’amar menjelaskan bahwa integrasi perangkat IoT dengan analitik data dan sistem notifikasi real-time memungkinkan tindakan mitigasi lebih cepat dan pengambilan keputusan berbasis bukti, sehingga berpotensi menurunkan frekuensi insiden dan meningkatkan efisiensi operasional.

Webinar Gratis: Dari Sensor ke Dashboard, Bagaimana Internet of Things Meningkatkan Keselamatan Kerja

Meski menekankan manfaat signifikan, pemaparan juga realistis mengenai tantangan implementasi: biaya investasi dan pemeliharaan, kebutuhan kapasitas TI internal, serta isu tata kelola data dan keamanan privasi pekerja yang harus diakomodasi dalam kebijakan perusahaan. Pada bagian tanya-jawab, peserta aktif mengajukan pertanyaan terkait model bisnis implementasi, skema pemeliharaan perangkat, serta langkah-langkah mitigasi risiko siber yang relevan untuk proyek IoT di lapangan.

Panitia menyediakan fasilitas bagi peserta berupa e-sertifikat, bahan materi dalam bentuk softfile, rekaman sesi, dan akses e-course sebagai bagian dari tindak lanjut pendidikan. Penyelenggara mengimbau perusahaan dan praktisi K3 untuk merencanakan adopsi teknologi secara bertahap dengan memperhatikan aspek tata kelola data, pelatihan pengguna, dan strategi pemeliharaan agar pemanfaatan IoT memberikan manfaat maksimal tanpa mengorbankan privasi maupun keselamatan pekerja.

ا MH ]

Wednesday, October 1, 2025

Mas Yuda Founder Imsafe.id: Membangun Generasi Muda Peduli K3 dan Lingkungan

 


Jakarta, AlifMH.info  I Gede Yuda Marta Diputra, yang akrab disapa Mas Yuda, merupakan praktisi sekaligus manajer Keselamatan, Kesehatan, dan Lingkungan (K3) berpengalaman lintas-industri. Kini, ia memimpin inisiatif Imsafe.id dengan misi membentuk generasi muda yang kompeten dalam praktik K3 dan kelestarian lingkungan. Berbekal pengalaman panjang, pendidikan tinggi, dan sertifikasi profesional, Mas Yuda berupaya mengubah paradigma keselamatan kerja dari sekadar kepatuhan menjadi budaya berkelanjutan yang berpihak pada masyarakat. 

Berawal dari pengalaman di sektor konstruksi, minyak dan gas, hingga fasilitas pergudangan dan pabrik, Mas Yuda membangun reputasinya sebagai praktisi HSE yang mampu merancang serta mengimplementasikan sistem manajemen K3 sesuai standar nasional maupun internasional seperti SMK3, ISO 45001, ISO 9001, dan ISO 14001. Ia pernah menjabat sebagai Corporate HSE Manager di PT Total Bangun Persada Tbk dan kini berposisi sebagai Occupational Health and Safety Assistant Manager di PT SMART Tbk sejak 2018. 

Sebagai pendiri Imsafe.id, visi yang diusungnya jelas: menjadi pionir dalam menginisiasi generasi muda berkualitas untuk meningkatkan praktik K3 dan kelestarian lingkungan di Indonesia. Misi Imsafe.id meliputi penerapan praktik K3 sesuai regulasi, inovasi edukasi berbasis komunitas dan digital untuk meningkatkan kreativitas dan kompetensi generasi muda, serta kolaborasi dengan lembaga, komunitas, dan pemangku kepentingan lain. 

Dari sisi akademis, Mas Yuda menempuh pendidikan Magister Sustainability Science di Universitas Padjadjaran (2021–2024) dan sebelumnya meraih gelar sarjana Manajemen Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja dari Universitas Negeri Semarang. Hal ini menegaskan pendekatannya tidak hanya fokus pada mitigasi risiko kerja, tetapi juga integrasi aspek keberlanjutan lingkungan dalam kebijakan K3. 

Kompetensi teknis Mas Yuda diperkuat dengan beragam sertifikasi, mulai dari Master Trainer of Trainer (Skema 1,2,3), Ahli K3 Kimia, hingga sertifikasi First Aid. Ia juga pernah menerima penghargaan “Best Health, Safety & Environment Award” ketika berkarier di PT Total Bangun Persada Tbk, sebagai bukti kontribusinya terhadap peningkatan standar HSE di dunia kerja. 

Dalam praktik sehari-hari, Mas Yuda fokus pada pengembangan budaya keselamatan (safety culture), manajemen kontraktor (CSMS), hygiene industri, respon darurat, investigasi kecelakaan, serta manajemen risiko pada berbagai bidang kerja. Lewat Imsafe.id, pendekatan holistik ini dikemas menjadi program edukasi dan kolaborasi yang relevan bagi perusahaan, komunitas, maupun institusi pendidikan.

Dengan semangat kolaborasi dan edukasi, Mas Yuda memposisikan Imsafe.id tidak hanya sebagai wadah pelatihan K3, tetapi juga sebagai platform bersama untuk menumbuhkan generasi profesional yang peduli keselamatan dan keberlanjutan. Ia berharap semakin banyak institusi dan komunitas yang terlibat, sehingga praktik K3 bisa menjadi budaya yang melekat di masyarakat Indonesia.

ا MH ]

Monday, September 15, 2025

Water Security Jadi Isu Mendesak, Seminar WaterTalk 2025 Tekankan Kolaborasi dan Solusi Nyata

 


Jakarta, AlifMH.info  Krisis air bersih semakin nyata dan kini bukan lagi pertanyaan kapan akan terjadi, melainkan bagaimana kesiapan Indonesia dalam menghadapinya. Hal ini menjadi sorotan utama dalam Seminar WaterTalk 2025 yang diselenggarakan oleh Water Indonesia bekerja sama dengan Indonesian Water Association (IdWA) serta Global Water Partnership – Southeast Asia (GWP-SEA). Acara tersebut berlangsung pada 13 September 2025 pukul 10.00–12.00 WIB di Conference Room, Hall D2, JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Dalam diskusi tersebut, sejumlah pakar di bidang air hadir memberikan pandangan strategis, di antaranya Raymond Valiant dari (Regional Coordinator GWP SEA) serta I Made Indradjaja Brunner, pakar Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) - Associate Director PT Pakar IPAL Indonesia. Diskusi tersebut dipandu oleh Fatrian Rubiansyah Rusydy, S.T., MBA, PMP, selaku Co-Founder Nusawater, Penanggung Jawab Divisi Komunikasi Strategis & Digital IdWA periode 2024–2028, serta Water Collaborator di Indonesia.

Raymond menekankan pentingnya perspektif regional dan pengalaman praktis yang dimilikinya dalam memimpin perusahaan publik. Menurutnya, meski jalan menuju keamanan air (water security) penuh tantangan, selalu ada solusi yang dapat ditempuh bila ada keseriusan dan kolaborasi antar pemangku kepentingan.

Sementara itu, I Made Indradjaja Brunner menyoroti pendekatan teknis yang sudah tersedia. Ia menjelaskan bahwa penerapan teknologi pengolahan air yang tepat serta kebijakan progressive tariff dapat menjadi instrumen penting untuk mendorong efisiensi dan keadilan dalam distribusi air.

Menurut Fatrian, diskusi ini merangkum tiga hal utama: pertama, jalan menuju water security memang berat tetapi bukan mustahil; kedua, faktor penentu keberhasilan ada pada political will dan keberanian pembuat kebijakan; ketiga, partisipasi publik sangat vital untuk memastikan implementasi kebijakan berjalan tepat sasaran.


“Air bukan sekadar sumber daya, melainkan kehidupan. Jika salah kelola, dampaknya tidak hanya dirasakan 10–20 tahun ke depan, tetapi mulai hari ini,” tegas Fatrian.

Seminar ini sekaligus menjadi momentum refleksi bagi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk menempatkan isu water security sebagai prioritas dalam pembangunan dan bisnis di Indonesia. Pertanyaan mendasar yang kemudian muncul adalah: apakah bangsa ini sudah cukup serius menempatkan keamanan air sebagai prioritas strategis?

ا MH ]

Sunday, September 7, 2025

Drone - Unmanned Aircraft System (UAS) Enthusiast Hadirkan Grup WA untuk Knowledge Sharing dan Info Loker Cepat

Berita; Drone - Unmanned Aircraft System (UAS) Enthusiast Hadirkan Grup WA untuk Knowledge Sharing dan Info Loker Cepat

Jakarta, AlifMH.info  Mu'amar Fadlil, S.T., M.T., CEH, Drone - Unmanned Aircraft System (UAS) Enthusiast yang berpengalaman bekerja di Manufakture Drone-UAS dan memiliki Sertifikat Pilot Drone, menginisiasi pembentukan sebuah grup WhatsApp yang fokus pada penyebaran informasi lowongan kerja serta berbagi pengetahuan secara gratis. Inisiatif ini ditujukan untuk memperluas akses informasi pekerjaan bagi pencari kerja yang tidak memiliki jaringan internal di perusahaan (so-called “orang dalam”).

Menurut inisiatif yang digagas Mu'amar, praktik perekrutan pada perusahaan swasta skala kecil dan menengah di Indonesia umumnya dimulai dari rekomendasi internal. Perusahaan seringkali mengutamakan kandidat yang direkomendasikan karyawan karena alasan efisiensi dan kebutuhan mendesak. Jika jalur internal tidak menemukan kandidat yang sesuai, perusahaan biasanya menyebarkan informasi melalui grup WhatsApp atau Telegram—prioritas utama sering diberikan kepada grup alumni, keluarga, atau komunitas internal—sebelum akhirnya memasang lowongan di platform rekrutmen terbuka seperti LinkedIn, JobStreet, Glints, dan lainnya.

"Langkah ini hadir untuk menjembatani ketimpangan akses informasi," ujar Mu'amar melalui keterangan singkat tentang tujuan pembentukan grup tersebut. "Banyak pencari kerja yang kompeten namun kehilangan peluang karena tidak memiliki koneksi; grup ini diharapkan menjadi saluran alternatif yang cepat dan terpercaya."

Mengapa Grup WA?

Berdasarkan pola perekrutan yang umum terjadi, penyebaran informasi lewat grup WhatsApp dianggap lebih cepat dan personal. Informasi yang tersebar di grup sering kali langsung diteruskan oleh karyawan yang mengetahui kebutuhan posisi, sehingga proses pencarian kandidat menjadi singkat. Namun, mekanisme informal ini kerap meninggalkan pencari kerja yang tidak memiliki relasi atau akses ke jaringan tersebut.

Grup WhatsApp yang digagas Mu'amar tidak hanya berfungsi sebagai saluran pengumuman lowongan. Selain pengumuman pekerjaan, grup ini juga dirancang sebagai wadah berbagi pengetahuan (knowledge sharing), seperti tips melamar kerja, persiapan wawancara, serta informasi peningkatan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri.

Sasaran dan Manfaat

Inisiatif ini menargetkan:

  • Pencari kerja yang belum memiliki jaringan internal di perusahaan.

  • Profesional muda dan lulusan baru yang membutuhkan akses cepat ke informasi lowongan.

  • Komunitas yang ingin berbagi pengalaman dan meningkatkan daya saing calon pelamar melalui materi pengetahuan praktis.

Manfaat yang ditawarkan antara lain kecepatan informasi, akses ke lowongan yang mungkin tidak dipublikasikan secara luas, dan peluang pembelajaran melalui sesi berbagi pengalaman serta tips karir dari anggota grup.

Cara Bergabung

Mu'amar menyatakan bahwa keanggotaan grup bersifat gratis dan terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan informasi lowongan kerja serta ingin mengikuti aktivitas berbagi pengetahuan. Bagi para pencari kerja dan profesional yang ingin bergabung dapat mengakses tautan pendaftaran grup berikut: Klik Disini.

Penutup

Dengan hadirnya grup WhatsApp inisiatif Mu'amar Fadlil, diharapkan semakin banyak pencari kerja — khususnya mereka yang tidak memiliki “orang dalam” — mendapatkan akses yang lebih adil dan cepat terhadap peluang kerja. Upaya semacam ini juga menegaskan peran komunitas digital sebagai pelengkap sistem rekrutmen tradisional, serta sebagai sarana pemberdayaan sumber daya manusia di tengah dinamika pasar kerja saat ini.

ا MH ]

Robotics Enthusiast Hadirkan Grup WA untuk Knowledge Sharing dan Info Loker Cepat

Berita; Robotics Enthusiast Hadirkan Grup WA untuk Knowledge Sharing dan Info Loker Cepat

Jakarta, AlifMH.info  Mu'amar Fadlil, S.T., M.T., CEH, Robotics Enthusiast yang merupakan dosen prodi AI & Robotics di Kampus Swasta - Jawa Barat, dan berhasil mengembangkan Autonomous Magnetic Climbing Robot (AMCR) pertama di Indonesia yang dapat melakukan misi inspeksi visual dan pengukuran ketebalan dinding besi, menginisiasi pembentukan sebuah grup WhatsApp yang fokus pada penyebaran informasi lowongan kerja serta berbagi pengetahuan secara gratis. Inisiatif ini ditujukan untuk memperluas akses informasi pekerjaan bagi pencari kerja yang tidak memiliki jaringan internal di perusahaan (so-called “orang dalam”).

Menurut inisiatif yang digagas Mu'amar, praktik perekrutan pada perusahaan swasta skala kecil dan menengah di Indonesia umumnya dimulai dari rekomendasi internal. Perusahaan seringkali mengutamakan kandidat yang direkomendasikan karyawan karena alasan efisiensi dan kebutuhan mendesak. Jika jalur internal tidak menemukan kandidat yang sesuai, perusahaan biasanya menyebarkan informasi melalui grup WhatsApp atau Telegram—prioritas utama sering diberikan kepada grup alumni, keluarga, atau komunitas internal—sebelum akhirnya memasang lowongan di platform rekrutmen terbuka seperti LinkedIn, JobStreet, Glints, dan lainnya.

"Langkah ini hadir untuk menjembatani ketimpangan akses informasi," ujar Mu'amar melalui keterangan singkat tentang tujuan pembentukan grup tersebut. "Banyak pencari kerja yang kompeten namun kehilangan peluang karena tidak memiliki koneksi; grup ini diharapkan menjadi saluran alternatif yang cepat dan terpercaya."

Mengapa Grup WA?

Berdasarkan pola perekrutan yang umum terjadi, penyebaran informasi lewat grup WhatsApp dianggap lebih cepat dan personal. Informasi yang tersebar di grup sering kali langsung diteruskan oleh karyawan yang mengetahui kebutuhan posisi, sehingga proses pencarian kandidat menjadi singkat. Namun, mekanisme informal ini kerap meninggalkan pencari kerja yang tidak memiliki relasi atau akses ke jaringan tersebut.

Grup WhatsApp yang digagas Mu'amar tidak hanya berfungsi sebagai saluran pengumuman lowongan. Selain pengumuman pekerjaan, grup ini juga dirancang sebagai wadah berbagi pengetahuan (knowledge sharing), seperti tips melamar kerja, persiapan wawancara, serta informasi peningkatan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri.

Sasaran dan Manfaat

Inisiatif ini menargetkan:

  • Pencari kerja yang belum memiliki jaringan internal di perusahaan.

  • Profesional muda dan lulusan baru yang membutuhkan akses cepat ke informasi lowongan.

  • Komunitas yang ingin berbagi pengalaman dan meningkatkan daya saing calon pelamar melalui materi pengetahuan praktis.

Manfaat yang ditawarkan antara lain kecepatan informasi, akses ke lowongan yang mungkin tidak dipublikasikan secara luas, dan peluang pembelajaran melalui sesi berbagi pengalaman serta tips karir dari anggota grup.

Cara Bergabung

Mu'amar menyatakan bahwa keanggotaan grup bersifat gratis dan terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan informasi lowongan kerja serta ingin mengikuti aktivitas berbagi pengetahuan. Bagi para pencari kerja dan profesional yang ingin bergabung dapat mengakses tautan pendaftaran grup berikut: Klik Disini.

Penutup

Dengan hadirnya grup WhatsApp inisiatif Mu'amar Fadlil, diharapkan semakin banyak pencari kerja — khususnya mereka yang tidak memiliki “orang dalam” — mendapatkan akses yang lebih adil dan cepat terhadap peluang kerja. Upaya semacam ini juga menegaskan peran komunitas digital sebagai pelengkap sistem rekrutmen tradisional, serta sebagai sarana pemberdayaan sumber daya manusia di tengah dinamika pasar kerja saat ini.

ا MH ]

Artificial Intelligence Enthusiast Hadirkan Grup WA untuk Knowledge Sharing dan Info Loker Cepat

Berita; Artificial Intelligence Enthusiast Hadirkan Grup WA untuk Knowledge Sharing dan Info Loker Cepat

Jakarta, AlifMH.info  Mu'amar Fadlil, S.T, M.T., CEH, Artificial Intelligence Enthusiast yang merupakan dosen prodi AI & Robotics di Kampus Swasta - Jawa Barat, menginisiasi pembentukan sebuah grup WhatsApp yang fokus pada penyebaran informasi lowongan kerja serta berbagi pengetahuan secara gratis. Inisiatif ini ditujukan untuk memperluas akses informasi pekerjaan bagi pencari kerja yang tidak memiliki jaringan internal di perusahaan (so-called “orang dalam”).

Menurut inisiatif yang digagas Mu'amar, praktik perekrutan pada perusahaan swasta skala kecil dan menengah di Indonesia umumnya dimulai dari rekomendasi internal. Perusahaan seringkali mengutamakan kandidat yang direkomendasikan karyawan karena alasan efisiensi dan kebutuhan mendesak. Jika jalur internal tidak menemukan kandidat yang sesuai, perusahaan biasanya menyebarkan informasi melalui grup WhatsApp atau Telegram—prioritas utama sering diberikan kepada grup alumni, keluarga, atau komunitas internal—sebelum akhirnya memasang lowongan di platform rekrutmen terbuka seperti LinkedIn, JobStreet, Glints, dan lainnya.

"Langkah ini hadir untuk menjembatani ketimpangan akses informasi," ujar Mu'amar melalui keterangan singkat tentang tujuan pembentukan grup tersebut. "Banyak pencari kerja yang kompeten namun kehilangan peluang karena tidak memiliki koneksi; grup ini diharapkan menjadi saluran alternatif yang cepat dan terpercaya."

Mengapa Grup WA?

Berdasarkan pola perekrutan yang umum terjadi, penyebaran informasi lewat grup WhatsApp dianggap lebih cepat dan personal. Informasi yang tersebar di grup sering kali langsung diteruskan oleh karyawan yang mengetahui kebutuhan posisi, sehingga proses pencarian kandidat menjadi singkat. Namun, mekanisme informal ini kerap meninggalkan pencari kerja yang tidak memiliki relasi atau akses ke jaringan tersebut.

Grup WhatsApp yang digagas Mu'amar tidak hanya berfungsi sebagai saluran pengumuman lowongan. Selain pengumuman pekerjaan, grup ini juga dirancang sebagai wadah berbagi pengetahuan (knowledge sharing), seperti tips melamar kerja, persiapan wawancara, serta informasi peningkatan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri.

Sasaran dan Manfaat

Inisiatif ini menargetkan:

  • Pencari kerja yang belum memiliki jaringan internal di perusahaan.

  • Profesional muda dan lulusan baru yang membutuhkan akses cepat ke informasi lowongan.

  • Komunitas yang ingin berbagi pengalaman dan meningkatkan daya saing calon pelamar melalui materi pengetahuan praktis.

Manfaat yang ditawarkan antara lain kecepatan informasi, akses ke lowongan yang mungkin tidak dipublikasikan secara luas, dan peluang pembelajaran melalui sesi berbagi pengalaman serta tips karir dari anggota grup.

Cara Bergabung

Mu'amar menyatakan bahwa keanggotaan grup bersifat gratis dan terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan informasi lowongan kerja serta ingin mengikuti aktivitas berbagi pengetahuan. Bagi para pencari kerja dan profesional yang ingin bergabung dapat mengakses tautan pendaftaran grup berikut: Klik Disini.

Penutup

Dengan hadirnya grup WhatsApp inisiatif Mu'amar Fadlil, diharapkan semakin banyak pencari kerja — khususnya mereka yang tidak memiliki “orang dalam” — mendapatkan akses yang lebih adil dan cepat terhadap peluang kerja. Upaya semacam ini juga menegaskan peran komunitas digital sebagai pelengkap sistem rekrutmen tradisional, serta sebagai sarana pemberdayaan sumber daya manusia di tengah dinamika pasar kerja saat ini.

ا MH ]

Inspiration

Figure

Techno