Mengapa Warga Indonesia Semakin Pilih Berobat ke Malaysia - Alif MH - Info

Wednesday, January 28, 2026

Mengapa Warga Indonesia Semakin Pilih Berobat ke Malaysia

 

William Heinrich (Direktur Kajian Strategis dan Teritorial Pemilu BSNPG)

Jakarta, AlifMH.info — Kesehatan merupakan salah satu aspek paling mendasar dalam kehidupan manusia. Setiap individu berupaya menjaga kesehatannya melalui berbagai cara, mulai dari mengonsumsi makanan dan minuman yang sehat, menjaga pola hidup seimbang, berolahraga secara rutin, hingga menghindari kebiasaan begadang. Namun, ketika kondisi tubuh tidak lagi sehat, upaya preventif tersebut tidak lagi cukup. Pengobatan menjadi sebuah keharusan, bahkan dapat dipandang sebagai kewajiban demi mempertahankan kualitas hidup.

Dalam konteks inilah, pelayanan kesehatan memegang peran strategis. Negara dituntut hadir bukan hanya sebagai penyedia fasilitas, tetapi juga sebagai penjamin rasa aman dan kepercayaan warganya ketika menghadapi kondisi sakit. Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, muncul fenomena sosial yang cukup mencolok: semakin banyak warga Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri, khususnya ke Malaysia. Fenomena ini tidak dapat dipahami sekadar sebagai tren sesaat, melainkan sebagai gejala struktural yang patut dicermati secara serius.

Di Indonesia, pelayanan kesehatan berada di bawah kewenangan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Secara kuantitas, pembangunan fasilitas kesehatan terus mengalami peningkatan. Namun dalam praktiknya, sebagian masyarakat masih merasakan ketidakpastian layanan, mulai dari birokrasi rujukan yang panjang hingga pengalaman pelayanan yang kurang manusiawi. Kondisi inilah yang mendorong warga mencari alternatif pengobatan di luar negeri.

Malaysia kemudian muncul sebagai destinasi utama. Secara objektif, sistem kesehatan Malaysia dibangun dengan infrastruktur yang kuat dan tata kelola yang relatif tertata. Data sebagaimana dilansir dari wikipedia menunjukkan bahwa hingga 2023 Malaysia memiliki sekitar 373 rumah sakit, terdiri atas 149 rumah sakit pemerintah dan lebih dari 210 rumah sakit swasta, dengan total kapasitas sekitar 69.800 tempat tidur. Jaringan fasilitas ini memungkinkan akses layanan medis yang relatif merata dan berjenjang. 

Selain ketersediaan fasilitas, tingkat pemanfaatan layanan kesehatan di Malaysia juga sangat tinggi. Berdasarkan laporan dari Kementerian Kesehatan Malaysia bahwa sepanjang 2023 sistem kesehatan Malaysia mencatat sekitar 4 juta pasien rawat inap dan lebih dari 100 juta kunjungan rawat jalan. Angka ini menunjukkan bahwa fasilitas kesehatan tidak hanya tersedia, tetapi benar-benar digunakan secara luas oleh masyarakat.

Keunggulan lain terletak pada dukungan pembiayaan dan investasi negara. Berdasarkan penelurusan dari CodeBlue.com bahwa pengeluaran kesehatan nasional Malaysia pada 2023 tercatat mencapai lebih dari RM84 miliar, dengan pembagian relatif seimbang antara sektor publik dan swasta. Pola ini menciptakan ekosistem kesehatan yang kompetitif, tetapi tetap terkontrol oleh kebijakan negara.

Sektor kesehatan swasta Malaysia dikenal luas memiliki standar internasional. Rumah sakit swasta didukung oleh tenaga medis profesional yang umumnya mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris dan Melayu, sehingga memudahkan pasien internasional, termasuk dari Indonesia. Menariknya, meskipun berstandar internasional, biaya perawatan di Malaysia relatif terjangkau. Platform wisata medis mencatat bahwa biaya pengobatan di Malaysia sering kali lebih rasional jika dibandingkan dengan kualitas layanan yang diterima pasien (medtrip.id)

Faktor-faktor inilah yang menjadikan Malaysia unggul sebagai destinasi wisata medis. Pada paruh pertama tahun 2024 saja, Malaysia mencatat lebih dari 580 ribu kunjungan wisatawan medis, dan sekitar 65–80 persen di antaranya berasal dari Indonesia. Angka ini tidak hanya mencerminkan daya tarik Malaysia bagi pasien asing, tetapi juga menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap sistem kesehatan negara tersebut (https://www.ihhmalaysia-international.com).

Mayoritas pasien Indonesia yang berobat ke Malaysia merupakan penderita penyakit serius, terutama kanker. Penyakit ini membutuhkan fasilitas diagnostik canggih, teknologi terapi mutakhir, serta tenaga medis yang berpengalaman. Malaysia dinilai mampu menyediakan ketiga unsur tersebut secara terintegrasi. Selain kanker, layanan medical check-up, ortopedi, serta penyakit tulang seperti osteoporosis dan skoliosis juga menjadi alasan utama warga Indonesia berobat ke sana.

Beberapa rumah sakit di Malaysia bahkan telah menjadi rujukan utama warga Indonesia sebagaimana dilansir dari mypageaxa.co.id yaitu Mount Miriam Cancer Hospital, misalnya, dikenal sebagai pusat diagnosis dan perawatan kanker dengan fokus layanan yang spesifik dan terintegrasi. Rumah sakit ini membangun reputasinya melalui pendekatan medis yang sistematis dan komunikasi yang intensif dengan pasien.

Selain itu, terdapat Regency Specialist Hospital yang berlokasi di Johor. Rumah sakit ini didukung oleh sekitar 80 dokter spesialis dari berbagai disiplin ilmu kedokteran dan bedah, serta melayani lebih dari 170 ribu pasien setiap tahunnya. Skala pelayanan ini menunjukkan tingkat kepercayaan publik yang tinggi, termasuk dari pasien internasional. 

Pantai Hospital juga menjadi salah satu tujuan utama pengobatan. Rumah sakit ini merupakan bagian dari Pantai Group yang menaungi sejumlah fasilitas kesehatan di Malaysia. Dengan beberapa cabang yang tersebar di berbagai wilayah, Pantai Hospital menawarkan layanan medis berstandar internasional dengan sistem pelayanan yang konsisten.

Island Hospital Penang tercatat sebagai salah satu rumah sakit dengan jumlah pasien luar negeri terbanyak pada tahun 2021. Hal ini memperkuat posisi Penang sebagai pusat wisata medis di kawasan regional. Sementara itu, Sunway Medical Center, yang berdiri sejak 1999 dan memiliki beberapa cabang, dikenal sebagai rumah sakit modern dengan layanan terpadu dan teknologi mutakhir.

Untuk kasus penyakit jantung, Institut Jantung Negara (National Heart Institute) menjadi rujukan utama. Rumah sakit ini didukung oleh puluhan dokter spesialis jantung berstandar internasional dan dikenal luas sebagai pusat unggulan pengobatan kardiovaskular di Malaysia. 

Lebih jauh, keberhasilan sistem kesehatan Malaysia juga ditopang oleh modernisasi layanan. Pemerintah Malaysia tengah mengembangkan telemedicine, digital health record, dan smart hospital system untuk meningkatkan efisiensi dan akses pelayanan kesehatan, termasuk di wilayah nonperkotaan (opengovasia.com).

Seluruh data tersebut menunjukkan bahwa fasilitas kesehatan modern berstandar internasional bukan sekadar simbol kemajuan, melainkan fondasi nyata yang menopang derajat kesehatan masyarakat Malaysia. Tingginya tingkat pemanfaatan layanan, stabilitas pembiayaan, modernisasi sistem, serta kepercayaan publik dan pasien internasional menjadi indikator bahwa sistem kesehatan Malaysia bekerja secara fungsional dan berorientasi pada kepastian pelayanan. Dalam konteks ini, keberhasilan Malaysia bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari keseriusan negara dalam membangun tata kelola kesehatan yang efisien, transparan, dan manusiawi.

Bagi Indonesia, fenomena ini seharusnya menjadi alarm kebijakan. Pelayanan kesehatan nasional perlu segera berbenah, bukan hanya pada aspek infrastruktur dan teknologi medis, tetapi terutama pada tata kelola layanan, kepastian sistem rujukan, kualitas komunikasi dokter-pasien, serta etika pelayanan publik. Negara tidak boleh membiarkan kepercayaan warga terkikis hingga mereka harus mencari rasa aman ke negeri lain. 

Reformasi kesehatan harus dipandang sebagai agenda strategis negara, bukan sekadar proyek sektoral. Jika pelayanan kesehatan Indonesia mampu menghadirkan kepastian, keadilan akses, dan penghormatan terhadap martabat pasien, maka warga tidak perlu lagi menjadikan negara tetangga sebagai rujukan utama. Pada titik itulah, negara benar-benar hadir bukan hanya sebagai regulator, tetapi sebagai pelindung hak paling dasar warganya: hak untuk sehat dan dilayani secara bermartabat.

ا MH ]

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda