Bonus Demografi Indonesia: Peluang atau Ancaman bagi Masa Depan Gen Z? - Alif MH - Info

Friday, January 30, 2026

Bonus Demografi Indonesia: Peluang atau Ancaman bagi Masa Depan Gen Z?

 

Nursaddam (Pimred Alif MH Media)

Jakarta, AlifMH.info — Indonesia sedang duduk di atas peluang besar sekaligus risiko yang sama besarnya. Dalam beberapa dekade ke depan, jumlah anak muda Indonesia mencapai puncaknya. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa sekitar 70,7 persen penduduk Indonesia berada pada usia produktif (15-64 tahun). Di antara mereka, Generasi Z menjadi kelompok terbesar. Angka ini sering disebut sebagai “bonus demografi”, seolah-olah sejarah telah menghadiahkan Indonesia tiket emas menuju negara maju. Namun, sejarah juga mengajarkan satu hal yang sering dilupakan: bonus demografi tidak pernah otomatis menjadi bonus.

Di balik angka yang terlihat optimistis, ada realitas yang jauh lebih keras. Tingkat pengangguran terbuka nasional Indonesia berada di kisaran 5-6 persen, tetapi untuk kelompok usia muda angkanya hampir dua kali lipat. BPS mencatat bahwa pengangguran usia 15-24 tahun berada di atas 16 persen. Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 20 persen pemuda Indonesia masuk kategori NEET-tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak mengikuti pelatihan. Artinya, dari setiap lima anak muda, satu di antaranya hidup tanpa arah yang jelas dalam sistem ekonomi dan pendidikan.

Kementerian Ketenagakerjaan mencatat bahwa setiap tahun Indonesia harus menyediakan jutaan lapangan kerja baru hanya untuk menampung tambahan angkatan kerja. Namun, sebagian besar lapangan kerja yang tercipta berada di sektor informal dengan produktivitas rendah. OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development atau Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi) bahkan mencatat bahwa produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tertinggal jauh dibanding negara-negara Asia Timur. Jika produktivitas tenaga kerja Korea Selatan dijadikan patokan, Indonesia masih berada di bawah separuhnya. Singapura bahkan melampaui Indonesia hingga beberapa kali lipat. Perbandingan ini menunjukkan bahwa persoalan utama Indonesia bukan jumlah tenaga kerja, melainkan kualitasnya.

Di saat yang sama, dunia berubah lebih cepat daripada kesiapan manusia mengikutinya. World Economic Forum memprediksi bahwa sekitar 44 persen keterampilan kerja akan berubah dalam lima tahun ke depan. Otomatisasi dan kecerdasan buatan akan menggantikan jutaan pekerjaan rutin. Alvin Toffler pernah menyebut fenomena ini sebagai future shock, guncangan yang dialami manusia ketika perubahan sosial dan teknologi bergerak terlalu cepat. Prediksi Toffler kini bukan lagi teori, melainkan kenyataan yang dihadapi Gen Z setiap hari. 

Dalam kerangka yang lebih kritis, Karl Marx pernah mengingatkan bahwa struktur ekonomi menentukan nasib kelas sosial. Jika sistem ekonomi hanya menciptakan sedikit ruang bagi tenaga kerja berkualitas, maka generasi muda akan terjebak dalam kompetisi yang tidak adil. Michel Foucault menambahkan bahwa kekuasaan modern bekerja bukan hanya melalui hukum, tetapi melalui sistem pengetahuan-kurikulum, standar kompetensi, dan sertifikasi yang menentukan siapa yang dianggap layak dan siapa yang tersingkir. Dalam konteks bonus demografi, Gen Z tidak hanya menghadapi tantangan teknologi, tetapi juga struktur sosial yang membatasi mobilitas mereka.

Namun, tantangan terbesar Gen Z bukan hanya soal pekerjaan, tetapi soal cara berpikir. Yuval Noah Harari dalam 21 Lessons for the 21st Century menegaskan bahwa di abad ke-21, kemampuan paling penting bukan hafalan, melainkan kemampuan belajar ulang. Peter Drucker menyebut masyarakat masa depan sebagai knowledge society, di mana nilai ekonomi ditentukan oleh pengetahuan, bukan tenaga fisik. Manuel Castells bahkan menggambarkan dunia modern sebagai network society, di mana kekuasaan dan peluang ditentukan oleh akses terhadap informasi dan jaringan. Jika Gen Z hanya menjadi pengguna teknologi, bukan pengendali pengetahuan, maka mereka akan kalah bahkan sebelum bertanding.

Ironisnya, Gen Z hidup di era informasi yang melimpah, tetapi sering kehilangan kedalaman berpikir. Noam Chomsky pernah mengkritik bagaimana media modern membentuk manusia menjadi konsumen yang patuh, bukan warga yang kritis. Dalam realitas digital hari ini, algoritma lebih menentukan apa yang kita lihat daripada kesadaran kita sendiri. Banyak anak muda merasa sibuk, tetapi tidak berkembang; merasa produktif, tetapi tidak bertumbuh. Jika pola ini terus berlangsung, maka bonus demografi hanya akan melahirkan generasi yang ramai di dunia maya, tetapi rapuh di dunia nyata.

Namun, menyalahkan Gen Z sepenuhnya adalah kesalahan. Pierre Bourdieu mengingatkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh modal ekonomi, sosial, dan budaya. Tidak semua anak muda memulai dari titik yang sama. Ketimpangan akses pendidikan, teknologi, dan jaringan sosial membuat bonus demografi tidak pernah netral. Jika negara gagal memperluas akses, maka bonus demografi hanya akan memperbesar jurang sosial antara mereka yang siap dan mereka yang tertinggal.

Meski demikian, sejarah selalu menunjukkan satu pola yang sama: perubahan besar hampir selalu dimulai dari generasi muda. Dari reformasi politik hingga revolusi digital, anak muda sering menjadi aktor utama. Di titik inilah bonus demografi menemukan maknanya yang paling dalam. Ia bukan sekadar soal jumlah, tetapi soal kesadaran. Gen Z yang mampu menggabungkan literasi teknologi, daya kritis, kreativitas, dan keberanian berpikir bukan hanya akan bertahan, tetapi akan mendefinisikan ulang arah bangsa.

Pada akhirnya, bonus demografi bukanlah hadiah otomatis, melainkan pertaruhan sejarah. Jika Gen Z mampu keluar dari budaya instan dan membangun kompetensi yang relevan dengan zaman, maka bonus demografi akan menjadi fondasi kebangkitan Indonesia. Tetapi jika mereka terjebak dalam kenyamanan digital dan ilusi produktivitas, maka bonus demografi hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah kegagalan.

Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh jumlah anak muda yang lahir, tetapi oleh kualitas kesadaran anak muda yang hidup hari ini. Di antara layar ponsel dan realitas sosial, Gen Z sedang menulis nasib bangsanya sendiri. Dan mungkin, untuk pertama kalinya dalam sejarah, masa depan Indonesia benar-benar berada di tangan mereka.

ا MH ]

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda